MUI Kaji Mata Uang Kripto, Begini Penjelasan Dewan Syariah Nasional MUI soal Kriteria Mata Uang

- Jumat, 18 Juni 2021 | 08:22 WIB
Representasi dari cryptocurrency virtual Bitcoin. (REUTERS/Edgar Su)
Representasi dari cryptocurrency virtual Bitcoin. (REUTERS/Edgar Su)

Baca Juga: PKJS UI Rekomendasikan Larangan Penjualan Rokok Batangan, Begini Masukannya

Prof Jaih juga menyinggung mengenai kedudukan harta yang diakui sebagai alat tukar (uang), yang pada dasarnya berfungsi sebagai standar nilai dari harta-harta lainnya.

Dalam sejarah, termasuk dalam sejarah Islam, emas dan perak diberlakukan sebagai uang (nuqud) yang bernama dinar (emas) dan dirham (perak). Fungsi uang (nuqud) dijelaskan ulama sebagai berikut:

a. Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din (4: 91) menyampaikan bahwa Allah menciptakan dinar dan dirham sebagai hakim (pemutus) dan penengah atau mediator (mutawasith) terhadap harta-harta lain untuk mengetahui nilai (qimah)-nya;

Baca Juga: Menteri Yaqut Cholil Qoumas akan Terbang ke Arab Saudi Bahas Penyelenggaraan Haji 2022

b. Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah (680) menyatakan bahwa Allah menciptakan logam emas dan perak sebagai nilah (qimah) bagi semua harta lainnya; dan

c. Sarkhasi dalam kitab al-Mabsuth (2: 191) menyatakan bahwa emas dan perak dalam berbagai bentuk, diciptakan Allah sebagai substansi nilai (qimah) atau harga.

“Ulama membedakan harta menjadi harta al-nuqud (secara harfiah berarti harga atau standar harga (al-tsamaniyyah) dan harta al-‘urudh yang secara harfiah berarti barang,” ujar Prof Jaih.

Baca Juga: Kemenag dan Kedutaan Besar Arab Saudi Bahas Penyelenggaraan Ibadah Haji Umroh 1443 H

Sementara itu kata dia, Al-naqd (al-nuqud; jamak) secara harfiah berarti al-kasyf (pengungkapan); yaitu mengungkapkan sesuatu dan penampakannya.

Halaman:

Editor: Fidelis Batalinus

Tags

Terkini

Ulasan Waktu Bersedekah yang Tepat, Simak yuk?

Kamis, 24 November 2022 | 20:05 WIB

Lirik Sholawat jibril, Shallallahu Ala Muhammad

Sabtu, 19 November 2022 | 01:55 WIB
X