Saya ingin bercerita tentang dua sosok ini: Sobary dan Jodhi.

- Minggu, 4 Desember 2022 | 15:48 WIB
Foto Istimewa : dua pigur Mohammad Sobary dan Jodhi Yudono Pada Pagelaran Mubes IWO II Tahun 2022 (HalloBogor/Nurdinruhendi )
Foto Istimewa : dua pigur Mohammad Sobary dan Jodhi Yudono Pada Pagelaran Mubes IWO II Tahun 2022 (HalloBogor/Nurdinruhendi )

Hallobogor. Mohammad Sobary, orang pertama yang saya sebutkan, adalah budayawan yang saya kenal "hanya" lewat satu buku yang ditulisnya, "Kang Sejo Melihat Tuhan" (selanjutnya saya sebut "Kang Sejo"). Tentu lebay, karena saya membaca ratusan tulisannya berupa kolom dan opini yang terserak di berbagai media ternama pada zamannya, khususnya "Kompas" dan "Tempo".

Jodhi Yudono adalah wartawan purnatugas Kompas.com yang larut dalam berkesenian. Ia multitalenta, tulisan fiksinya berupa cerita bersambung (novel) sangat liar, tapi memukul kesadaran, padahal hanya bercerita tentang keseharian. Ia juga penyanyi dan mahir manadai puisi menjadi syair lagu yang dinyanyikannya sendiri. Ia juga trubador bagi anak-anak yang takzim mendengar cerita-ceritanya. Saat saya bertemu, ia demisioner sebagai Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO).

Baiklah saya cerita satu-persatu tentang mereka, tapi maaf tidak ada kopi yang tersaji, Anda bikin sendiri-sendiri saja...

Sejatinya "Kang Sejo" berupa buku bunga rampai kolom-kolom Sobary, sebagaimana Mahbub Junaidi mengumpulkan "Asal-usul" menjadi sebuah gerumbul kritikan tajam yang sedemikian halus terhadap kesewenang-wenanhan penguasa otoriter zaman itu, Soeharto.

Baca Juga: Respon Positif Peserta Mubes IWO II Tahun 2022, Bagi Jawa Barat

Richard Rorty bilang, jika pers kelu, sastralah yang bicara dan itu dilakukan Seno Gumira Ajidarma lewat cerpen-cerpen hiperealitasnya. Bagi Mahbub bukan sastra yang bicara, tetapi kolom. Tujuannya sama saja, mengeritik realita terkait sepak terjang penguasa yang semena-mena tetapi murka kalau kena kritik.

Sobary, lewat kolom-kolomnya, lebih memotret realitas sosial yang terjadi pada zamannya, tetapi dengan metafora Jawa yang mudah diterima. Ia seolah-selah memaksa liyan yang bukan Jawa memahami budaya Jawa dalam tindakan keseharian.

Salah satu tulisan dalam "Kang Sejo", yaitu "Naik Mercy Uro-uro", Sobary berbicara tentang determinisme kultural Jawa yang sedemikian halus (jauh dari kesan kasar), tetapi sesungguhnya memaksa liyan (non-Jawa) "berkiblat" ke Jawa dan mengakui betapa Jawa adalah "pusat dunia".

Dengan demikian filsafat itu menggugurkan argumen sejarah Jawa sebagai sejarahnya orang-orang yang kalah dan karenanya filsafat Jawa cermin sikap hidup orang yang kalah, sebagaimana alinea pembuka kolomnya.

Halaman:

Editor: Nurdin Ruhendi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X